Meditasi Suara dan Huruf Hidup

MEDITASI SUARA DAN HURUF HIDUP

Pernahkah kita membayangkan dunia yang begitu sepi? tanpa ada aktivitas atau manusia atau hewanpun di dalamnya? tanpa ada satupun sumber suara sekecil apapun..

Suara adalah refleksi dari suatu kegiatan, ibarat asap yang pasti muncul kalau ada api, suara adalah refleksi dan pasti ada dari suatu kegiatan, terlepas dari kita mampu atau tidaknya mendengar suara tersebut.
Karena tak mampu terdengar bukan berarti tak ada, sama dengan hal tak terlihat bukan berarti tak ada.

Suara adalah resonansi atau rambatan dari getaran suatu frekwensi yang nyata, refleksi dari suatu kejadian.
Maka bila suara adalah refleksi dari suatu kejadian, berarti suara memiliki frekwensi yang spesifik yang menyimpan data tentang kejadian apa yang direfleksikannya, suara mobil dan motor adalah suara dentum ledakan di ruang bakar dikombinasikan dengan gerakan piston, klep, dan banyak instrumen lainnya di dalam mesin.

Suara orang memaku dinding adalah suara dentuman palu ke paku yang dirambat tembok, dari suara temboknya kita mampu memprediksi jenis tembok apa yang dipakai, seberapa kuat si pemukul, dsb..suara memiliki pesan dan menympan data sekompleks itu, bahkan lebih.

Maka bila seseorang mampu menghayati suara, ia akan mampu menemukan apa saja yang sedang terjadi di sekitarnya, bahkan dari suara seseorang mampu memprediksi sesuatu sebagai suatu efek timbal balik dari suara tsb, dan itu bukanlah suatu hal yang magis melainkan sangat kronologis dan saintik.
Bila seseorang mendengar suara deru mesin mendekat pastilah dalam waktu dekat kita akan melihat motor atau mobil melintas, bila suatu kaca ditekan dan mulai bunyi “krek” maka pastilah kaca tsb retak, bila sudh retak kita sudah bisa memprediksi tinggal seberapa kuat kaca tsb hingga ia pecah.dsb.

Contoh diatas adalah prediksi yang didapat berdaasarkan data suara dalam kehidupan sehari-hari, bayangkan bila anda peka, dari perbedaan suara angin saja pada akhirnya bisa mampu memprediksi bagaimana cuaca seharian ini, dan kompleksisitas yang dibangun di semesta memiliki kombinasi suara yang mampu didedah dan membuat kita mengetahui banyak hal yang seringkali oleh orang pada umumnya tak dianggap dan sekedar sepintas lalu saja.

Bagaimana cara kita sampai dalam level tsb? ternyata ketenangan adalah jawabannya.
Tenang, peka, intuitif semua dapat dilatih melalui olah nafas, melalui meditasi dan menenangkan diri.. cobalah menyatu dan melabur bersama suara yang ada di semesta, tidak menganggap itu semua sebagai gangguan atau polusi suara, dengarkan deru mobil yang lewat, orang bicara, dsb..semua merefleksikan kejadian yang terjadi di saat itu.
Dalam konsep meditasi versi tantra dikenal istilah filsafatik “melihat semua hal sebagai buddha, mendengar semua suara bagai manthra”
Dalam esensinya berarti melihat semua sebagai perwujudan Tuhan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, dan semua suara adalah suara yang suci (manthra dalam buddha berarti sejenis doa-doa dan dzikir)..
Dalam agama -agama abrahamik dijelaskan bahwa semesta berasal dari satu suara/dimulai dengan satu suara dan diakhiri dengan satu suara pula (terompet sangkakala).
Dalam konsep saintik yang mahsyur, semesta paling awal tercipta dari ledakan (teori bigbang) dan rembetan / resonansi suaranya masih bergaung di alam semesta raya sampai saat ini.

Dalam konsep filsafatik yang lebih dalam lagi, suara yang mampu didengar manusia -dalam bahasa apapun- meski pengucapannya berbeda, tetap menggaungkan huruf hidup yang kalau di telinga kita, kita kenal sebagai AIUEO. Sisanya konsonan atau huruf mati.
Meski saat ini sudah banyak singkatan-singkatan yang berisi huruf mati saja dan dapat dimengerti (seperti bahasa dalam WA, knp (kenapa), kpn(kapan)), namun sejatinya huruf mati tanpa huruf hidup tidaklah memiliki arti.
Meski dalam teks mampu dilakukan, namun dalam konteks suara, kita tidak akan mampu menyuarakan apapun tanpa adanya huruf hidup..bahkan sebutan satu huruf saja harus memakai huruf hidup ; K itu dibaca Ka, C itu dibaca Ce, dsb..dan hanya huruf hidup saja yang mampu berdiri sendiri tanpa perlu adanya bantuan hurf mati untuk mewujud diucapkan, A ya A, E ya E,dsb.

Dari filsafat itu kita paham bahwa yang hidup berasal dari Sang Maha Hidup yang berdiri sendiri (qiyamuhu binafsihi dalam bahasa islam), dan yang mati baru berarti dan berguna bila ada yang hidup di dalamnya, ini ibarat tubuh tanpa roh cuma benda mati.

Maka tidak heran kenapa vocalizing AIUEO sangat berguna dan bermafaat dalam kesehatan, ya karena ia adalah huruf hidup, reperesntasi yang maha hidup yang mengisi segalanya menhjadi berarti.

Andi Arya Giri