Mindfullness, Suryomentaram, Erchart Tolle, dan Jon Kabat-Zinn

MINDFULNESS
SURYOMENTARAM, ERCHART TOLLE, JON KABAT-ZINN
SEBUAH PENGANTAR

Oleh: Mas Gunggung

Kelas Mindfulness OMG akan mengangkat topik pembahasan yang meliputi kaidah pemahaman lokal Indonesia dan Barat. Konsep Mindfulness ala Indonesia yang dipopulerkan oleh Ki Ageng Suryomentaram memiliki hakekat yang mirip dengan yang dipopulerkan oleh Erchart Tolle dan yang dipopulerkan oleh Prof. Jon Kabat-Zinn.

Ada sebuah buku menarik dengan tema spiritualitas yang ditulis oleh Erchart Tolle. Penulisnya bekerja di Universitas Cambridge. Buku ini telah diterjemahkan dalam 30 bahasa dan mencapai prestasi buku terlaris versi New York Times. Judul bukunya adalah The Power of Now.

Nun jauh disana, ada seorang Jawa bernama Suryomentaram yang mengungkapkan kesediaan seseorang untuk menerima keadaan saat ini dengan apa adanya menggunakan istilah “saiki, kene, mengkene, aku gelem”. Pemahaman ini dituangkan pada buku berjudul Kawruh Jiwo atau Pengetahuan Jiwa.

Antara Erchart Tolle dan Suryomentaram memiliki konsep yang kurang lebih sama, yakni menggambarkan kondisi dimana ketika seseorang memberikan perhatian sepenuhnya untuk “hadir” pada situasi yang terjadi dan dihadapi saat ini dengan apa adanya akan dapat menghasilkan kesejahteraan psikologis yang didambakan.

Apa itu?

Yakni Kedamaian Hati.

Kondisi dimana tidak adanya konflik. Kondisi diri yang lebih sehat. Hal ini karena seringnya kebiasaan manusia yang sering berpikir, yang apabila tidak hati-hati, seringkali menimbulkan masalah.

Disadur dari buku Kawruh Jiwo, menurut Suryomentaram dijelaskan sebagai berikut:

“Selain berpikir mengenai barang‐barang, orang dapat pula menggagas rasa. Misalnya, orang miskin merasa dirinya celaka. Ia berpikir, bila ia menjadi orang kaya maka ia akan bahagia. Nampak di sini bahwa rasa celaka timbul karena munculnya gagasan pikiran bahwa ia akan bahagia bila kaya. Ia berpendapat demikian karena memotret bagaimana kehidupan orang kaya, dan mengira kehidupan seperti itu adalah potret kebahagiaan. Padahal kebahagiaan sebenarnya tidak dapat dipotret.

Orang dapat bertengkar karena gagasan pikiran yang tidak sama.

Demikianlah, gagasan pikiran bila tidak diketahui (disadari) akan menimbulkan kesulitan. Seperti halnya orang dapat merasa malang hidupnya karena menggagas perihal kebahagiaan di luar hidupnya saat ini. Banyak sekali gagasan rasa yang dikira potret rasa. Bila gagasan tersebut diketahui bukan potret rasa, maka kesulitan tersebut akan lenyap.”
(Suryomentaram, 2002)

Terlihat pada penjelasan diatas menurut Suryomentaram bahwa pikiran yang berada pada kondisi saat ini yang tidak menghasilkan potret rasa adalah pikiran yang bersifat ‘non-judgement’ atau yang tidak menghakimi.

Ini adalah yang seperti diungkapkan oleh definisi dari Prof. Jon Kabat-Zinn pada konsep mindfulness sebagai berikut: “kesadaran yang muncul melalui perhatian, dengan sengaja, pada saat ini, tanpa menghakimi”.

Sementara, sebagian besar manusia cenderung mengidentikkan diri dengan pikiran dan digerakkan oleh pikiran (Erchart Tolle, 2005). Proses ini, jika tidak hati-hati, akan dapat menciptakan lapisan buram berupa konsep, citra, label, definisi, dan penilaian yang dapat menghambat hubungan multidimensi antara dia dengan dirinya, dia dengan sesama, dia dengan semesta, dan dia dengan Tuhannya. Dikatakan, pikiran itu semestinya apa adanya. Ia adalah salah satu sarana yang indah yang semestinya tidak memiliki penyimpangan. Ia menjadi menyimpang ketika kita mencari diri sendiri di dalam pikiran lalu beranggapan bahwa itu adalah diri kita apa adanya hingga kemudian menjadi pikiran egois yang dapat mengambil alih keseluruhan kehidupan kita. Egoisme pikiran akan membuat kita terjebak dalam lorong waktu berupa masa lalu dan masa yang akan datang.

Terlihat bagaimana antara Suryomentaram, Jon Kabat-Zinn, dan Erchart Tolle memiliki konsep yang sangat mirip yakni pikiran yang disadari berada pada saat ini, sekarang, disini, tidak di masa lalu dan tidak di masa depan, dan dengan karakter non-judgement atau tanpa menghakimi atau tanpa egoisme.

Jon Kabat-Zinn menggunakan istilah ‘kondisi penghakiman’, yang dalam bahasa Suryomentaram disebut ‘potret rasa’ atau dalam bahasa Erchart Tolle disebut ‘egoisme pikiran’ akan menimbulkan keasyikan terus menerus terhadap masa lalu dan masa depan, dan enggan untuk menghargai dan mengakui saat sekarang. Hal yang sangat berharga sebenarnya adalah saat sekarang. Semakin kita terfokus pada waktu, masa lalu atau masa depan, semakin kita kehilangan Saat Sekarang, yaitu hal yang paling berharga tersebut.

Mengapa Saat Sekarang dikatakan yang paling berharga? Tolle menjelaskan bahwa
Saat Sekarang merupakan satu‐satunya yang ada. Semua ada di sana. Masa kini merupakan ruang, tempat seluruh kehidupan kita terungkap. Hidup adalah sekarang. Sekarang adalah satu‐satunya hal yang dapat membawa kita melampaui batas‐batas pikiran yang serba terbatas. Ini satu‐satunya akses menuju dunia Keberadaan yang tanpa waktu dan tanpa wujud.

Masa lalu dan masa depan jelas tidak memiliki realitas sendiri. Sama seperti bulan yang tidak memiliki cahaya sendiri, hanya dapat memantulkan cahaya. Ini tidak dapat difahami dengan pikiran, namun dapat ditangkap maknanya. Saat kita menangkap maknanya, terjadi pergeseran dalam kesadaran: dari pikiran pada “Keberadaan”; dari masa lalu dan masa depan menuju masa kini. Maka semuanya akan hidup, memancarkan energi yang berasal dari Keberadaan pada masa kini.

Mereka yang melakukan penolakan terhadap masa sekarang akan
menghasilkan emosi negatif. Emosi jenis ini dapat menggejala dalam berbagai bentuk: mulai dari ketidaksabaran sampai dengan amarah yang dahsyat. Mulai dari suasana hati yang tertekan atau jengkel sampai dengan rasa putus asa yang mendorong keinginan bunuh diri. Mulai dari rasa kecewa yang ringan sampai dengan kesedihan yang sangat dalam.

Semuanya itu berkaitan erat dengan resistensi (penolakan) terhadap kenyataan
yang dihadapi seseorang. Resistensi memicu kepedihan emosi, sehingga selanjutnya hal‐hal kecil (yang tidak sesuai harapan) dapat menghasilkan negatifitas yang hebat. Keadaan seperti ini tentu jauh dari rasa bahagia.

Kebalikan dari resistensi adalah menerima keadaan secara apa adanya. Mengenai hal ini Suryomentaram menggunakan ungkapan “Sekarang, di sini, begini, aku mau!” untuk menggambarkan sikap seseorang yang menerima keadaan secara apa adanya, dan menjadi bahagia karenanya. Tanpa penghakiman, tanpa embel-embel, tanpa ciri.

Seru bukan?

Seperti apa dampak secara kesehatan ketika kita memahami dan menjalankan konsep diatas akan dijelaskan secara bertahap pembahasannya pada Kelas Mindfulness OMG yang sesi perdananya akan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 28 September 2024. Berikut jadwal latihan rutin via Zoom online pada setiap Selasa dan Kamis jam 19:30 WIB.