Durasi Waktu Kita Semua Sama, yang Membedakan adalah Cara Menggunakannya

Kemarin saya ditanya apa rahasia sukses untuk melakukan manajemen kelas MG yang terlihat sangat aktif dan super sibuk tapi kok masih bisa riset, latihan, baca, nulis artikel, bikin video kreatif, bikin brosur promo, aktivitas harian, dan sebagainya. Jangan-jangan MG ini punya tim yang banyak ya?

Hahaha…

Saya ngga punya tim. Semua dikerjakan sendiri dari mulai nulis, desain grafis, desain video, membuat audio instruksi manual, editing, mengajar offline maupun online, mengisi kelas terapi private, dan lain sebagainya. Termasuk riset dan pengembangan.

Dan itu semua tidak pernah membuat saya tidak latihan harian. Saya adalah orang yang latihannya paling rajin diantara semua peserta pada Metode Napas Ritme ini. 

Kok bisa sih MG?

Bisa dong!

Kita khan dikasih waktu yang sama 24 jam oleh Yang Maha Kuasa. Bedanya ya pada cara menggunakannya saja. Jika digunakan dengan baik, maka waktu itu akan membawa kita pada perubahan baik. Namun jika tidak, maka kita yang akan dilibas waktu.

Ada satu buku menarik karangan Laura Vanderkam yang berjudul “168 HOURS, YOU HAVE MORE TIME THAN YOU THINK” di halaman 18 yang terjemahannya kurang lebih sebagai berikut:

“Kalau kita ngerasa susah banget cari waktu 20 menit untuk berolahraga, maka nggak heran untuk mencapai hal-hal besar, seperti membangun karir sambil mengasuh anak, memimpin organisasi nirlaba, dan berlatih untuk maraton, akan menjadi benar-benar mustahil.”

Makanya, kelas-kelas saya itu PENUH dan selalu diisi oleh orang-orang yang serius ingin melakukan perubahan. Hal ini karena memang resonansi saya sejak awal sudah dibangun dengan berisi semua semangat belajar dan semangat perubahan.

Dan resonansi saya itu sudah dibangun dengan semua semangat pada pengorbanan pikiran, tenaga, maupun biaya. Itulah yang nanti akan menciptakan gelombang resonansi pada semesta untuk mereka-mereka yang datang secara sadar dan sengaja, Allah mampukan pada biaya, serta beneran mau belajar.

Maka, yang niatnya “cuma mau tahu”, yang niatnya “cuma mau nyolong ilmu”, atau yang niatnya lain selain dari belajar, memperbaiki diri, atau melakukan perubahan niscaya akan sulit ketemu dengan metode ini.

Kelas-kelas saya berisi variasi pelatihan sebagai berikut:

– Ada latihan seminggu 1x

– Ada latihan seminggu 2x

– Ada latihan seminggu 3x

– Ada latihan yang 21 hari non stop

– Ada latihan yang 60 hari non stop

– Ada latihan yang 90 hari non stop

Kelas-kelas saya sudah jauh melampaui apa yang ditulis oleh buku 168 jam itu apabila peserta melakukannya dengan tekun.

Lha kalau cuma diminta latihan 20 menit saja sulit, banyak alasan, ya gimana coba mau ada perubahan? Kalau mentalitasnya masih “tarsok-tarsok” alias “entar besok, entar besok” lalu berharap perubahan besar akan terjadi? Itu mah namanya mimpi.

Masa iya berharap ada perubahan besar tapi masih melakukan dengan cara lama? Masih dengan kemalasan yang lama?

Bro, bangun!

About Mas Gunggung

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by Mas Gunggung