OMG, RASA, VISUAL, DAN NARASI

OMG, RASA, VISUAL, DAN NARASI

Oleh: Mas Gunggung

Pada materi khusus CA yang diajarkan di OMG, berdasarkan pengalaman melatih ratusan pasien CA, tingkat kesembuhan baru benar-benar dapat terjadi ketika seseorang mampun untuk melakukan pergeseran gelombang otak dari yang sebelumnya sibuk menjadi tidak sibuk. Secara teknis sibuk itu ada pada gelombang otak Beta.

Karena tidak sibuk, tidak terlalu banyak bising di dalam pikiran kita, maka banyak peluang yang bisa terjadi di situ.

Kenapa ketika pada gelombang frekwensi Beta peluang keberhasilan jadi kecil? Jawabannya karena otaknya menghabiskan energi untuk kesibukan kesibukan yang dibuatnya sendiri? Kesibukan apa? Misalnya melalui overthinking, trauma dan sebagainya.

Sering saya bilang semua kunci penyembuhan itu ada pada gelombang otak frekuensi rendah. Dengan lapisan terluarnya adalah Alpha berturut turut masuk pada Theta dan kemudian Delta

Maka, apabila gelombang otak kita bisa dijaga di posisi itu, diantara 3 itu tadi ya, dan ketika salah satu bioritmik kita munculkan, misalnya narasi atau visual atau rasa, itu akan berpotensi untuk mewujud.

Kalau masih ingat pelajaran saya yang dijelaskan pada Youtube mengenai konsep Bioritmik, apalagi yang sudah pernah ikut kelasnya, bahwa awalnya mulai dari Rasa. Sejak awalnya dari mulai kita masih dalam kandungan masih statusnya janin semua panca indra belum sempurna terbentuk. Enggak ada visual karena mata belum sempurna terbentuk. Enggak bisa ngomong juga karena mulut belum sempurna terbentuk. Maka sudah jelas Rasa adalah bioritmik pertama yang paling dikenali pertama kali dan yang pertama melengkapi fisik ketika pembentukan materi itu terjadi.

Karena “yang pertama kali” maka pasti akan terus dikenal. Sama seperti detak jantung ibu. Mau sampai kapanpun kita hidup didunia, ketika kita diberikan getaran detak jantung ibu maka sel-sel tubuh kita akan mengenali. Baru setelah itu seiring perjalanan waktu dan sel muncullah aspek baru yakni Visual dan Narasi. Jadi Rasa adalah yang pertama. Visual yang kedua. Dan Narasi adalah yang ketiga.

Sehingga kata kuncinya adalah pada semua yang kita bentuk entah itu narasi, atau visual, maka kita harus bisa mengenali rasanya. Misalnya, kalau kita membayangkan Rumah, visual berarti kan, nah kalau sekedar visual saja itu mestinya hambar tuh. Mesti enggak punya gerakan hati apapun enggak punya semangat apapun untuk memiliki atau mendatangi.

Tapi ketika kita bayangkan sebuah rumah, lalu kemudian ada rasa kebentuk di situ maka biasanya itu menjadi tenaga penggerak untuk menuju ke situ entah memiliki atau mendatangi.

Narasi juga begitu. Kalau setelah seseorang itu ngomong, kemudian omongan itu tidak berhasil membangkitkan rasa maka harus diubah narasinya. Kenapa? Karena Rasa ini adalah yang menjadi utama yang paling dikenali oleh sel tubuh kita sebelum visual atau narasi.

Jelas ya, maka nanti ada 2 kategori ada orang yang sekedar visual atau saja dan ada orang yang visualnya dan narasinya membangkitkan rasa. Jangan membuat visual yang tidak memunculkan rasa atau jangan membuat narasi yang tidak memunculkan Rasa. Ini penting banget. Sangat penting banget.

Tujuan atau Goal kita dala hidup itu setiap orang bisa beragam. Pada aspek kesehatan maka tujuan adalah kesembuhan. Pada orang sehat, tujuannya bisa saja finansial, karir, atau jodoh, atau apa saja. Masalahnya, semua tujuan itu belum ada wujudnya, belum ia terima pada saat ini. Bentuk akhirnya masih berada pada wilayah abstrak di masa depan. Istilahnya ada di wilayah Unknown.

Nah banyak dari kita takut pada sesuatu yang abstrak atau Unknown ini.

Istilahnya, takut dengan sesuatu yang enggak jelas di depan. Banyak yang kayak gitu khan mikirnya. Karena enggak jelas didepan, karena abstrak, dan karena Unknown itulah maka orang jadi takut.

Dalam pemahaman MG, justru kenapa tidak dilihat dari sisi yang berbeda?

Maksudnya gimana?

Karena masih abstrak atau masih Unknown atau masih belum jelas kenapa tidak kita yang gambar aja wilayan Unknown itu? Kenapa tidak kita lukiskan saja wujudnya? Kenapa tidak kita pahat saja bentuk akhirnya? Iya khan?

Ini seperti 2 sisi mata uang. Di satu sisi kita takut dan khawatir karena masa depan kita enggak jelas seperti misalnya sembuhnya kapan dan kayak gimana kita enggak tahu. Karir dan finansial kita kedepannya juga belum tahu arahnya kemana jalannya, kemana petunjuknya, kita juga enggak tahu. Abstrak. Unknown.

Tapi justru pada sisi lain, kalau kita melihat sisi positifnya dari sesuatu yang abstrak atau unknown ini, yang enggak jelas ini, masa depan yang nggak jelas ini, kenapa enggak kita pikir desainnya kita gambar aja, kita lukis aja, kita pahat aja? Iya kan?

Jadi, di masa depan ini, di wilayah abstrak atau wilayah unknown kita yang desain. Kita yang bikin. Daripada lingkungan eksternal yang penuh dengan stres itu yang bikin, mending kita secara pribadi yang bikin sesuai maunya kita.

Kalau bapak ibu pengen sampai sembuh ya kita desain aja sembuhnya gimana? Kalau bapak ibu pengen sukses finansial ya kita desain aja sukses finansialnya gimana? Kalau bapak ibu pengen sukses karir ya desain aja sukses karirnya maunya gimana. Silahkan desain, lukis, pahat aja di masa depan maunya gimana menurut idealnya bapak ibu sendiri.

Diantara abstraksi pada diri kita dan abstraksi pada wilayah Unknown itu penghalang.

Yang mampu menembusi penghalang itu ya semua abstraksi pada diri kita itu. Fisik ngga bisa nyampe di masa depan karena belum ada wujud fisiknya. Hanya abstrak yang dapat menuju pada abstrak. Abstraksi pada diri kita dapat kita tembakkan ke masa depan untuk menarik semua gambaran ideal agar masuk ke masa kini.

Tapi karena kita udah takut duluan, menganggap wujud yang di depan ini abstrak, unknown, dan nggak jelas maka harus kita lakukan adalah mengganti pola pikir kita dulu. Mengganti pola pikir bahwa yang abstrak ini betul kita memang enggak tahu masa depan kita kayak apa. Kita nggak tahu kapan kita sembuh. Kita enggak tahu sembuhnya dalam bentuk apa dan sebagainya. Tapi di sisi lain kita bisa mendesain, menggambarkan, melukis, pada wilayah unknown itu kesembuhan yang kita mau. Iya kan?

Dengan cara bagaimana? Dengan cara abstraksi pada diri yang terkuat yang kita goreskan di wilayah unknown itu pakai frekuensi dan gelombang.

Karena cuma frekuensi gelombang yang bisa melintasi masa lalu dan masa depan. Dalam bentuk apa? Rasa.

Nah caranya bagaimana?

Selalu ada pilihan positif dan negatif. Pilihan Rasa juga demikian. Namun, pilihlah sesuatu yang selalu positif diantara sekian banyak pilihan negatif. Nah, pilih itu. Pilih yang positif!

Jadikan semua Rasa berada pada pilihan positif. Jadikan semua Visual berada pada pilihan positif. Jadikan semua Narasi berada pada pilihan positif.

Karena nggak mungkin lahir kesembuhan kalau misalnya kita masih takut, masih khawatir masih cemas pada semua wilayah abstraksi diri kita. Enggak mungkin. Enggak akan ketemu tuh.

Kita melukis versi kesembuhan yang kita mau.

Kita melukis realita yang kita mau.

Dasarnya itu.

Nah sekarang kita masuk pada pelajaran berikutnya. Rasa. Ada 6 rasa besar yang sudah pernah diteliti oleh sains yakni gratitude (syukur), apreciation (menghargai), compassion (welas asih), loving-kindness (cinta kasih), happiness (bahagia), forgiveness (memaafkan).

Maka, berdasarkan teori tadi, kita ingin melukis apa diruang abstrak masa depan itu?

Yakni kita melukis semua rasa positif diantara satu sampai enam ini yang nanti kita memunculkan dalam latihan. Terserah yang mana saja semuanya baik.

Diantara 6 jenis rasa besar yang diteliti sains yang memiliki efek paling besar terhadap kesembuhan adalah Gratitude (syukur).

Jelas sampai sini ya. Jadi kita menorehkan lukisan kita, menggambar lukisan di ruang abstrak masa depan yang masa depan yang nggak jelas itu kita bikin aja jelas gambarnya. Kita lukis satu persatu terus seperti itu supaya jadi mewujud seperti apa yang kita mau.

Gratitude, pada saya yang muslim, maka penjabaran narasinya yang paling pendek adalah alhamdulillah. Atau terima kasih Tuhan. Atau secara horisontal antar manusia misalnya terima kasih pada orang orang yang sudah baik sama saya. Terima kasih pada orang orang sudah membantu saya. Dan sejenis itu.

Terima kasih Tuhan telah memberikan saya kehidupan masih baik. Ada banyak orang orang yang kanker stadium 4 pakai ventilator, di ruang ICU, tapi saya enggak. Makasih, terima kasih sudah memberikan saya kebaikan memberikan saya kesehatan yang seperti ini dibandingkan mereka ya kira kira begitu.

Nah ketika Narasi ini dibentuk jangan lupa rasanya harus muncul. Jangan sampai narasinya aja.

Ini kesalahannya seringnya di sini. Rasanya harus muncul. Coba bayangkan ibu bapak dan situasi sulit katakanlah ada anggota keluarga kita misalnya lagi di ICU perlu bantuan dana besar untuk operasi. Kalau datang seseorang yang ngasih duit “ini buat operasi kamu, pakai saja. Tidak usah mikirin cara balikin duitnya..”, itu kayak apa coba rasa di hatinya tuh ya khan? Wah dahsyat banget, bisa bikin kita membungkuk atau bersujud.

Nah selain dari kita berucap, terima kasih bapak, terima kasih ibu, terima kasih banget. Jangan lupa diingat-ingat itu getaran di hati kita pada saat mendapatkan bantuan itu pasti besar banget khan?. Itu yang harus dikenali dan dirasakan muncul.

Yang kita harap itu narasi dan visual itu membentuk yang seperti itu. Rasa yang berkelimpahan.

Karena Rasa itu nanti yang akan menyeberang ke wilayah unknown dimasa depan untuk menjadi torehan, pahatan patung kita akan jadi gimana kita di masa depan.

Jadi kalau mau sembuh ya rasakan kesembuhannya sudah terjadi. Misalnya kalau loving kindness ya bahagia rasakan kebahagiaan itu di diri kita dengan apapun jenis kebahagiaannya. Masing-masing orang kan punya versi kebahagiaan sendiri. Bebas saja. Yang penting itu bisa mewujud menjadi rasa yang bisa kita kenali.

Karena itu nanti yang kita pakai untuk melukis di wilayah Unknown itu. Bukan narasinya, bukan visualnya doang. Tapi goresan Rasa-nya. Kita torehkan sedikit demi sedikit sampai nanti bentuk yang abstrak yang masa depan enggak jelas ini menjadi jelas wujudnya karena terus menerus kita torehkan setiap hari setiap saat.

Jadi kita sedang ngajarin tubuh kita dengan Rasa.

Saya ambil contoh, pengalaman diri saya ketika membangun OMG ini.

OMG ini di masa depan ngga jelas, masa depannya belum tahu, saya tidak tahu, semua orang ngga tau. Mau jadi apa OMG di masa depan juga ngga jelas. Hahaha… Berapa omzetnya ngga jelas, berapa peserta yang akan bergabung ngga jelas. Seberapa banyak kelasnya yang akan dibuat juga ngga jelas. Semuanya masih di wilayah abstrak, unknown, ngga jelas.

Daripada saya takut, cemas, khawatir, deg-degan dengan wilayah yang sama-sama saya juga tidak tahu ini, maka berdasarkan pengalaman dan ilmu yang saya miliki, lebih baik saya memilih untuk menorehkan “wujud OMG masa depan” maunya gimana.

Saya menarasikan OMG kedepannya mau dapat omzet berapa. Saya memvisualkan itu. Saya menarasikan OMG kedepannya dalam setahun mau dapat peserta berapa. Saya memvisualkan itu semua. Lalu berusaha mencari rasa terbesar apabila omzet naik. Bisa bayar sewa gedung, listrik, gaji, dll.

Menariknya, itu tercapai. Yang pada awalnya deg-degan apakah mampu atau tidak sejak bulan pertama, tak terasa sudah 2 tahun berjalan.

Apakah kalau omzet banyak duit banyak hati bahagia? Saya cari dulu apakah rasa bahagia yang jujur itu muncul di hati kecil. Tentu semua sepakat duit banyak hati senang. Tapi ya belum tentu juga. Kenali saja secara jujur. Rasakan, rasakan, dan rasakan. Mana rasa terbesar.

Saya menarasikan OMG akan punya belasan instruktur. Saya bayangkan itu, visualkan. Jumlahnya, nominalnya, dan semuanya didetailkan. Lalu saya rasakan, kenali rasa ketika semua narasi dan visual itu muncul.

Menariknya, itu juga tercapai. 🙂

Saya menarasikan OMG akan menjadi perusahaan yang punya karyawan. Saya visualkan, detailkan nama karyawannya, wujudnya, pekerjaan yang diselesaikannya, hasil akhirnya, sifatnya, karakternya, dan lain sebagainya. Suka-suka saya karena wujud OMG khan berdasarkan maunya saya.

Menariknya, yang itu juga tercapai. 🙂

Tentu saja pada perjalanannya tidak semua mulus. Tapi itulah dinamika pembentukan “wujud OMG masa depan”. Saya dikhianati, ditusuk dari belakang, instruktur menggunting dalam lipatan, instruktur yang sudah dibaik-baikin secara tulus tiba-tiba menelikung, dan masih punya hutang pula sama saya hahaha. Kalau mau marah pengennya teriak “kamu emang kampret!”

Tapi ya sudahlah, itulah dinamikanya. Kalau saya larut pada goresan Rasa negatif pada kekecewaan, kemarahan, maka wujud OMG dimasa depan akan buruk. Maka saya lupakan saja. Saya terima sebagai bentuk takdir. Dan belajar melepaskan, mendoakan semoga melalui jalur ilmu-ilmu Napas Ritme yang diajarkannya kepada orang-orang akan jadi penambah rezeki masa depan dan pahala saya kelak di akhirat nanti.

Ilmu akan selalu datang pada penciptanya. Hukum alamnya selalu begitu. Orang-orang mungkin belum tahu, tapi suatu saat nanti akan tahu. Maka, saya tidak perlu larut berada pada rasa negatif. Tutup buku saja. Dianggap episode hidupnya selesai. Toh nomor saya juga sudah di block. Urusan selesai.

OMG harus ditorehkan ulang dengan rasa yang baru.

(bersambung)