OBROLAN SANTAI
(Bagian ke-2)
Oleh: Mas Gunggung
Setelah kemudian “ketemu” dan mengerucut pada konsep Frekwensi, pertanyaan berikutnya menjadi lebih rumit.
Frekwensi apa yang ingin diukur dulu di badan? Ada berapa banyak frekwensi pada tubuh manusia? Bagaimana cara mengukurnya? Alatnya apa? Dasar teorinya bagaimana? Logikanya seperti apa?
Selain itu, alat ukur frekwensi ternyata mahal-mahal.
Modal untuk hanya ingin tahu dan mengamati fenomena yang terjadi dari olah napas agar terukur, obyektif, dan logis ternyata tidak murah.
Berbagai jenis teknik napas yang saya ketahui menghasilkan frekwensi berapa? Seperti apa “wujud” olah napas ini dalam angka? Dalam grafik? Dan pada sesuatu yang bersifat kuantitatif?
Ada yang sekali latihan harus 6 napas, ada yang 9 napas, ada yang 14 napas, dan lebih dari itu. Bisakah jika dilepas satu-satu? Berapa frekwensinya? Samakah dampaknya antara dilepas satu-satu dan dirangkai?
Ada napas keras, ada napas halus, ada napas jepit, dan sebagainya. Apa dampaknya ketika diterapkan pada teknik-teknik napas itu? Sama kah?
Misal, coba dijawab pertanyaan ini:
- Garuda + napas keras + pengejangan maksimal
- Garuda + napas keras + pengejangan “secukupnya”
- Garuda + napas keras + tanpa pengejangan
- Garuda + napas halus + pengejangan maksimal
- Garuda + napas halus + pengejangan “secukupnya”
- Garuda + napas halus + tanpa pengejangan
- Garuda + napas jepit + pengejangan maksimal
- Garuda + napas jepit + pengejangan “secukupnya”
- Garuda + napas jepit + tanpa pengejangan
Itu belum termasuk variasi lain yang akan lebih banyak jadinya.
Sama tidak hasilnya?
Bagaimana pergerakan kimiawi darahnya? Pergerakan frekwensinya? Pergerakan parameter-parameter sains dan medis yang disepakatinya? Dan sebagainya.
Bagaimana mengukur dan mengetahui “power” pada tubuh? Dalam sudut pandang apa? Energi listrik? Energi magnet? Energi lain? Mana dampak terbesar pada power di tubuh manusia?
Dan banyak pertanyaan-pertanyaan yang mesti harus Anda siapkan.
Harus berani mengkritisi ilmu pada diri sendiri. Bukan untuk merendahkan namun untuk mencari jawaban bagi diri sendiri.
Jika ada seseorang yang mencari jawaban dengan latihan pribadi di rumah, latihan di gunung, latihan di sungai, latihan di pantai, latihan di kuburan, latihan di goa, itu semua tetap perlu dihormati sebagai pilihannya. Sebagaimana seseorang juga harus menghormati jika ada yang mengambil jalan modern berbasis sains.
Nantinya, tinggal dilihat saja seberapa ilmu yang dihasilkan orang yang mersudi itu dapat diterima oleh banyak orang. Dan seberapa berani orang itu diuji berdasarkan klaim yang dikatakannya. Seberapa berhasil pengajaran ilmunya pada orang yang berbeda? Seberapa banyak orang mampu mencapai hasil yang sama dengan klaim dan teknik yang dibuatnya?
Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang mesti disiapkan.
Dan jangan “baper” atau tersinggung jika ada orang yang mempertanyakan ini dan itu. Diterima saja dengan senang gembira dan lapang dada.
Toh selama ini khan sudah terus mempertanyakan. Mungkin saja ada pikiran dari orang lain yang berada diluar kemungkinan pertanyaan kita. Mestinya berterima kasih. Dikasih hadiah kalau perlu.
Tentu saja, seseorang tidak perlu serumit ini jika klaimnya hanya di tradisional murni dan bukan ilmiah. Tradisional murni tidak perlu membeli alat-alat modern sains maupun medis, tidak perlu berkutat dengan membaca rujukan jurnal-jurnal penelitian, dan tidak perlu melakukan analisa pencatatan ini dan itu.
Dan semua “temuan” itu mesti berani dituliskan, dibuatkan karya tulis. Kalau bukan Anda yang menulis, mesti ada orang lain yang mau menuliskannya.
(Bersambung)