Obrolan Santai (bagian ke-1)

OBROLAN SANTAI
(Bagian ke-1)

Oleh: Mas Gunggung

Beberapa waktu lalu ngobrol santai dengan senior, salah satu topik yang dibicarakan adalah mengenai kelas olah napas ritme yang saya buat. Beliau menanyakan bagaimana ceritanya hingga bisa menjadi seperti itu dan sedemikan berbeda dengan MP yang menjadi dasar keilmuan saya?

Well, ini merupakan perjalanannya panjang.

Metode Napas Ritme lahir dari perenungan panjang yang diawali dari pengamatan fenomena terhadap mengukur, menganalisa, dan mencobai berbagai olah napas MP yang saya ketahui.

Maka, pengumpulan berbagai alat ukur adalah penting adanya. Setelah itu mencobai berbagai jenis olah napas dan teknik spesifiknya. Melihat data-data pengukurannya, melakukan analisa, membentuk keraguan, membangun hipotesa, menarik kesimpulan, mempertanyakan ini dan itu, dan banyak lagi. Semua dicatat.

Setelah itu mencari dan berdiskusi dengan kalangan sains dan medis, membuka dan membaca buku-buku teks, jurnal-jurnal, dan berbagai tulisan pendukung. Berani mengevaluasi hasilnya dan melakukan berbagai koreksi yang dipandang perlu. Termasuk diskusi dengan orang-orang yang sepaham.

Ini bukan pekerjaan ringan.

Memerlukan konsistensi pada waktu, pikiran, tenaga, dan sudah pasti biaya.

Saya berikan contoh, dibuat sederhana, misalnya melihat pengaruh Napas Pembinaan dengan gula darah. Beberapa hal yang perlu disiapkan:

a. Penyiapan alat-alat pendukung

  • Alat ukur gula darah (umum, CGM)
  • Buku catatan atau digital
  • Handphone untuk memfoto atau memvideokan aktivitas
  • Statistik dan karakteristik peserta

b. Merancang urutan latihan
1. Doa pembuka
2. Napas Garuda
3. Napas Dorong Tarik
4. Napas Dorong Tarik Kombinasi
5. Napas Listrik
6. Doa penutup

c. Merancang teknis latihan
– Napas apakah keras atau kendor?
– Durasi tiap napas
– Durasi jeda antar napas

d. Merancang teknis pengukuran
– Sebelum
– Saat (tiap satu napas, atau setelah selesai, atau kontinyu)
– Sesudah (langsung, 5 menit, 10 menit, 15 menit, 30 menit)

e. Pencatatan Hasil
– Harian
– Mingguan
– Bulanan

f. Pencatatan tambahan
– Faktor makanan, pola tidur, tingkat stres, dll
– Analisa dan pembentukan hipotesa
– Koreksi dan evaluasi
– Mengulangi percobaan (menambah sampling, dan karakteristik peserta)

Bisa dilihat, hanya untuk pengamatan fenomena saja tidak sesederhana yang dibayangkan. 

Tidak lantas baru latihan 1x atau 2x kemudian gula darah turun lalu disimpulkan bahwa napas ini dan itu dapat menurunkan gula darah dan seakan selamanya gula darah akan terjaga.

Itu belum bicara mengenai berbagai pertanyaan kritis seperti misalnya:

  1. apakah keempat teknik napas itu yang menurunkan gula darah? Bisakah kalau hanya mengambil satu jenis teknik napas saja misal hanya melakukan Napas Garuda saja? Atau dorong tarik saja? Atau dorong tarik kombinasi saja? Atau listrik saja? Samakah hasilnya antara hanya pakai satu napas dan pakai keempat-empatnya?
  2. adanya variasi pada pengejangan otot, pengenduran otot, dan kejang kendor otot apakah menghasilkan hasil yang sama?
  3. adanya penambahan layer abstraksi berupa visualisasi, niat kuat, keyakinan, rasa, dsb apakah menghasilkan hasil yang sama? Bagaimana jika dicoba hanya otot-otot saja tanpa ada layer abstraksi, apakah hasilnya sama?
  4. Berapa lama waktu diperlukan untuk menormalkan gula darah seseorang dengan napas tersebut dengan tanpa adanya perubahan gaya hidup pada orang tersebut?
  5. Jika diperbandingkan dengan alternatif penurunan gula darah lainnya, seberapa cepat dan baik hasilnya?
  6. Jika dilatihkan pada pasien dengan karakteristik usia, jenis kelamin, kondisi ini dan itu yang berbeda apakah hasilnya sama?

Dan banyak lagi.

Jadi, sebelum menarik kesimpulan itu diperlukan perjalanan panjang analisa dan uji coba.

Tahap evaluasi dan koreksi harus dilakukan jika ingin berkembang.

Itu baru satu jenis masalah kesehatan. Coba ulangi untuk masalah kesehatan yang berbeda. Coba ulangi dengan menguji pada teknik napas yang lain? 

Nah, pada saat saya menggali, melihat analisa data, sajian grafik pengukuran pengamatan fenomena, dan mengevaluasi banyak hal itulah saya mulai bertanya-tanya, “kayaknya mesti ada sesuatu dibalik ini semua…”.

Data-data angka, berbagai variabel, berbagai grafik itu “berbicara”.

Dan berujung pada Frekwensi.

Darisanalah kemudian lahir Metode Napas Ritme.

(Bersambung)

About Mas Gunggung

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by Mas Gunggung