OBROLAN SANTAI
(Bagian ke-3)
Oleh: Mas Gunggung
“Sampeyan khan bukan dokter mas? Bukan juga ilmuwan? Kok berani nulis-nulis begitu? Banyak loh yang bilang sampeyan omong besar, omong ketinggian, dan sebagainya.”
Ya mas, tentu saja saya harus siap dengan semua omongan orang. Pada setiap sesuatu yang berani seseorang munculkan pada media sosial sudah pasti akan menimbulkan tanggapan beragam. Disikapi biasa saja.
Dibilang begini dan begitu. Ya biasa saja.
Namun begini, agar dipahami bahwa pada semua yang ingin melakukan mersudi pada aspek tradisional sedangkan dia bukan ilmuwan atau dokter maka mulailah dengan pengamatan fenomena. Itu dibolehkan. Bahkan, banyak ilmuwan dan medis yang melakukan penelitian terhadap teknik tradisional, misal olah napas, memulainya dengan pengamatan fenomena.
Seseorang melakukan teknik yang diyakininya sambil dilakukan pengukuran dan ditempeli alat ukur. Jika belum mengerti dasar teorinya kenapa bisa begini dan begitu maka dicatat saja dengan rajin. Dicarikan banyak sample sehingga nanti dari data catatan-catatan hasil pengamatan fenomena ini akan dapat terlihat trendline, grafik tertentu, atau sejenis kesimpulan sementara yang dapat ditarik.
Tidak ada masalah dengan itu.
Pengamatan fenomena ini sifatnya subyektif. Namun jika dapat diduplikasi pada berbagai jenis karakteristik peserta maka dapat menjadi dasar ilmu pengetahuan.
Tentu saja seorang yang bukan ilmuwan atau dokter tidak akan mampu membuat tulisan berkualitas jurnal ilmiah. Ini harus disadari benar. Namun ia dapat menjadi rujukan sumber ilmu pengetahuan dari orang lain yang membutuhkannya.
Perlahan, jika takdirnya baik, maka dapat meluas dan semakin tajam. Perlahan, jika niatnya terjaga, maka bisa saja ilmunya akan selalu ditambah dan ditambah.
Dan perlahan, jika jatuh hukum penguasaan ilmu kepadanya maka ia akan menjadi yang ketitipan ilmu itu.
Semuanya ujian.
Pada ketenaran.
Pada harta.
Dan pada yang lainnya.
Sebagian dapat melewatinya, sebagian tidak. Sebagian menghasilkan sifat kehati-hatian, sebagian tenggelam pada kesombongan.
Itulah yang akan terjadi.
Maka, pada suatu tulisan saya beberapa tahun lalu dijelaskan bahwa pada siapapun yang telah selesai menulis di media sosial, memposting video, dan bahkan mengajar pada berbagai media agar selalu melakukan istighfar. Memohon ampun kepada Allah kalau-kalau ada terselip kesombongan di hati.
Namanya manusia, dipuji ya rasanya enak. Didekati ya hatinya senang. Dihormati tinggi ya dirinya nyaman. Dihina ya bisa marah. Dan sebagainya. Tinggal dilakukan analisa di dalam hati kecilnya, apakah semua itu semakin membuatnya rendah hati atau malah sombong. Sebab batasan keduanya tipis.
Misal, Anda menulis atau posting sesuatu yang baik lalu Anda dipuji, kemudian tulisan jawaban Anda merendah tapi hati Anda sebenarnya meninggi. Sungguh itu tidak kelihatan dari permukaan. Orang akan tetap tahu Anda orang yang “rendah hati” padahal hati kecilnya menumbuhkan benih jumawa.
Yang kayak gini suatu saat nanti akan dapat memakan dirinya sendiri. Istilah Jawa, “Getih Balik”. Dampaknya dapat sedemikan rusak nantinya jika tidak cepat disadari benar. Sebab pada dasarnya semua ilmu kita hanyalah titipan.
Jika sudah jatuh hukumnya ilmu itu datang kepada seseorang, bahkan jika ilmu itu bersembunyi dibawah kerak bumi, dibalik gelapnya malam atau terangnya sinar matahari, atau dibalik milyaran kata, niscaya akan datang kepada Anda.
(Bersambung)