Sepanjang pengalaman mengajar >10.000 jam (tepatnya lebih dari 30.000 jam terbang mengajar) dimana interaksinya terhadap para peserta yang sudah memiliki alat ukur HRV dan kepada pasien-pasien yang saya wajibkan membeli alat ukur HRV maka saya menemukan banyak sekali fenomena pergerakan HRV yang dapat dijadikan dasar pengukuran terhadap sesuatu.
Tidak hanya itu, bersama teman-teman yang menyukai dan berprofesi sebagai Terapis Energi juga ditemukan fenomena dimana power kelistrikan lemah pada kebanyakan terapis energi. Terapis energi ini adalah mereka yang menggunakan energi tubuhnya (sesuai keyakinan dan kepercayaannya masing-masing) untuk kemudian menyalurkannya untuk mengobati dan ‘menyembuhkan’ pasiennya.
Dapat dibayangkan, misalnya ketika power kelistrikan pada tubuhnya hanya seperti gambar nomor 1, 2, atau 8 maka akan terjadi defisit terus menerus. Apalagi jika para praktisi ini tidak mau atau malas untuk ‘recharge ulang’ energinya. Tentu saja sesuai dengan keyakinan dan kepercayaannya terhadap konsep energi tersebut. Entah mau disebut Prana, Chi, Getaran, whatever.
Juga saya temukan fenomena dimana ketika pasien memiliki nilai Total Power seperti pada gambar 1 dan 2 itu kecenderungannya sudah masuk pada kondisi ‘terminal’ atau kegawatdaruratan tinggi. Biasanya, berdasarkan pengalaman pribadi berinteraksi dengan pasien sakit berat, nilai-nilai pada gambar 1 dan 2 itu terjadi pada kanker stadium 4 yang juga sudah metastasis (menyebar pada jenis sel lain). Jika tidak ditangani dengan baik, maka nilai itu akan terus menurun dan menyebabkan kematian.
Prognosis HRV pada kanker sudah banyak diteliti dan dengan data-data yang sangat meyakinkan. Maka, penggunaan pengukuran berbasis HRV sebagai prognosis intervensi kanker menjadi lebih terukur dan lebih mudah untuk dilihat apakah intervensi yang saat itu dilakukan menuju perbaikan atau pemburukan dengan melihat beberapa variabel HRV yang didapat pada saat itu.
Untuk para terapis energi yang suka dengan ‘salur-menyalurkan’ maka sebaiknya tingkat Total Power HRV berada pada gambar 3, 4, atau 5. Dan jika sudah drop turun, maka hentikan dan segera ‘re-charge ulang’ sesuai keyakinan dan kepercayaannya.
Ada sebagian yang meyakini konsep ‘Energi Cerdas’ yang konon katanya tinggal pejamkan mata, perintah, yakini, lalu ‘energi cerdas’ ini akan bekerja sendiri secara otomatis sesuai yang kita inginkan.
Namun, benarkah semudah itu ‘energi cerdas’ ini diperintah lalu ‘menurut’?
Jika memang demikian, maka tentunya tidak ada lagi orang sakit di muka bumi ini. Karena tinggal pejam mata saja, bayangkan, lalu perintahkan saja ‘energi cerdas’ ini melakukan tugasnya. Tinggal tunggu, dan voila semua berubah dengan sekejap!
Coba, test saja untuk menurunkan tensi, test untuk menurunkan gula darah, kolesterol, HbA1C, Ureum dan Kreatinin, dan sebagainya. Jika mampu, maka ‘energi cerdas’ ini ada dan menuruti Anda. Namun jika tidak mampu, maka coba dievaluasi kenapa bisa begitu? Dimana salahnya?
Dalam pemahaman Metode Napas Ritme, semua yang memiliki kecerdasan itu sudah pasti memiliki sisi spiritualitas. Demikian juga pada ‘energi’ yang diyakini sebagai ‘energi cerdas’. Tentu saja ‘energi cerdas’ ini memiliki spiritualitas.
Mana ada kecerdasan tanpa adanya spiritualitas di dalamnya.
Dan sisi spiritualitas tentu saja memiliki karakteristik sumbernya. Apakah spiritualitas yang berasal dari aspek ketuhanan ataukah non ketuhanan.
Misalnya, jika sisi spiritualitas ketuhanan Anda rendah, maka mustahil dapat memerintahkan ‘energi cerdas’ yang memiliki aspek spiritual ketuhanan yang tinggi. Anda hanya dapat memerintah pada sesuatu yang lebih rendah kadar powernya. Hukum alamnya mesti begitu.
Maka, proses pencarian spiritualitas ini terus menerus dilakukan oleh para pencari energi dan para penikmat energi. Entah spiritualitas ‘Putih’ maupun spiritualitas ‘Hitam’.
Maka, konsep ‘energi cerdas’ itu tidak sesederhana hanya tinggal pejam mata, perintah, lalu ia sudah pasti akan menurut. Belum tentu seperti itu. Kualitas kadar spiritual seseorang agar ia dapat memerintah energi yang memiliki kecerdasan akan sangat berperan disini.
Makanya, seringkali ketika sisi spiritualitas ‘Putih’ menjadi sangat sulit didapatkan seringkali seseorang berbelok pada sisi spiritualitas ‘Hitam’ atau malah dibelokkan kesana oleh karena adanya semacam ‘jebakan kemudahan’ dalam memerintah ‘energi cerdas’ ini.
Sederhananya, jika pencarian energi atau ‘serap-serap energi’ ini membuat seseorang makin jauh dari aspek spiritualitas ‘Putih’ dan berubahnya sisi kemanusiaannya, maka mesti waspada dan hati-hati. Sebab ini menentukan jenis resonansi yang akan menarik ‘sesuatu’ itu menjadi apa atau seperti apa.
Metode Napas Ritme sangat berhati-hati dalam konsep energi yang seperti itu. Makanya, tidak ada dalam kelas pelatihannya konsep yang seperti ‘serap-serap energi’ secara liar dari alam. Tidak pula menyertakan ‘energi cerdas’ yang diterjemahkan secara liar.
Bahwa dalam tubuh ada sumber energi kelistrikan dan magnet yang cukup. Sel-sel tubuh yang jumlahnya milyaran itu memiliki potensi besar. Selama tahu cara memanfaatkannya, insya Allah dapat digunakan sebagai potensi perbaikan.
Seseorang hanya berusaha mencari tahu bagaimana cara memunculkannya, cara ‘melihatnya’ secara kuantitatif, dan berbagai strategi untuk meningkatkan dan menurunkannya. Maka kelistrikan itu akan mengikuti dengan sendirinya. Tanpa perlu Anda perintah-perintah. Atur ritmenya, maka kelistrikan akan mengikuti. Jika masih berada hukum alam yang sama, maka hukum itu akan mengukuti dengan sendirinya.
Semua jenis pelatihannya bertujuan untuk mengamati fenomena pada tubuh, melihat berbagai perubahan positif padanya. Baik fisik maupun psikis. Semua kelas pelatihannya adalah Pembelajaran terus menerus. Bukan untuk mengungguli siapapun atau membuktikan kepada siapapun. Yang semua dari kita lakukan adalah membuktikan pada Diri Kita Yang Lama. Itu saja.
Jika diri yang lama lebih baik dari yang baru, maka Anda sudah pasti merugi. Supaya beruntung, maka diri Anda yang baru harus lebih baik dari diri Anda yang lama. Konsepnya selalu seperti itu terus. Dan itu yang menjadi konsep progresif positif pada Metode Napas Ritme ini.
Meski demikian, oleh karena manusia terdiri dari fisik dan jiwa maka tentu saja pelajaran mengenai layer abstraksi yang ‘tidak terlihat’ juga diperlukan. Sains sudah banyak sekali membahas mengenai ini. Hal-hal seperti visualisasi, rasa, dan sejenis itu juga dipelajari dan diukur. Sejauh mana perubahannya terhadap kelistrikan tubuh. Metode Napas Ritme juga menerapkan itu pada beberapa kelasnya.
Karena nanti pada akhirnya, ketika ketidakberdayaan kita, maka layer abstraksi itu akan menjadi sangat dominan perannya dibanding fisik. Selama masih ada napas, maka masih ada frekwensi. Selama masih ada frekwensi maka masih ada peluang perubahan.
Sampai jumpa para peserta pada Kelas Reguler Sabtu angkatan ke-10 yang akan dilaksanakan besok jam 10:45 WIB. Kita akan bahas dengan santai bagaimana potensi resonansi pada tubuh dan resonansi pada komunitas.
Detail dari penjelasan apa dan bagaimana HRV berpengaruh pada berbagai masalah kesehatan, itu akan diberikan pada Kelas “KURAMA” HRV Ramadhan mendatang. Misalnya, beda antara gambar nomor 6 dan 7 itu menunjukkan apa pada tubuh? Beda antara gambar 8 dan 9 itu menunjukkan perubahan apa? Dan sebagainya.
Kita terus belajar dan belajar. Mumpung masih mampu dan masih ada kesempatan. Mumpung neuroplasticity masih dapat dilakukan dengan semangat. Sebab ketika usia sudah mulai menua, umumnya sudah sulit untuk belajar dan memulai hal baru.
