BOCORAN MATERI KELAS REGULER MINGGU ANGKATAN KE-12 YANG AKAN DATANG
(Bagian ke-2)
Oleh: Mas Gunggung
Dari 12 syaraf Cranial yang dimiliki oleh tubuh kita, terdapat 4 (empat) syaraf parasimpatik di dalamnya yakni:
- Occulomotor (CN. III)
- Facial (CN. VII)
- Glossopharyngeal (CN. IX)
- Vagus (CN. X)
Untuk dapat memiliki potensi perbaikan kesehatan yang baik maka empat syaraf parasimpatik diatas harus sering distimulasi. Harus kuat, reaktif, responsif, dan adaptif terhadap semua kenaikan simpatik dalam bentuk stress internal maupun eksternal.
Dan dari keempat syaraf parasimpatik diatas, syaraf Vagus memiliki sebaran terluas hingga >90% seluruh bagian dalam tubuh. Syaraf ini diteliti banyak sekali oleh ilmuwan untuk melihat sejauh mana potensinya dan stimulasinya untuk meningkatkan kesehatan tubuh tidak hanya fisik juga psikis.
Memahami apa dan bagaimana Syaraf Vagus (CN. X) beserta dengan pemahamannya akan memudahkan dalam menganalisa potensi perbaikan kesehatan nyaris keseluruhan.
Kelas Reguler Minggu angkatan ke-12 yang akan dilaksanakan tanggal 8 Mei 2022 mendatang akan membahas mengenai stimulasi lengkap terhadap syaraf Vagus ini.
Tentu saja selain materi yang di dapat dari buku, juga pendekatan Metode Napas Ritme yang bagaimana yang dapat melakukan stimulasi pada syaraf parasimpatik diatas. Kombinasi keduanya akan menjadi solusi menyeluruh bagi peserta dalam melakukan perbaikan kesehatan.
Plus informasi bagaimana cara mengetahui pengukuran tubuh untuk melihat apakah ada potensi silent stroke pada tubuh.
Ya, Anda tidak salah dengar.
HRV atau Heart Rate Variability dapat melihat apakah pada saat itu tubuh Anda sedang berada pada kecenderungan untuk mengalami resiko terkena stroke atau tidak. Tentu saja syaratnya adalah mesti punya alat ukur HRV, dan nanti data pengukurannya akan saya bantu untuk dilakukan analisa selama periode tertentu apakah ada resiko terkena stroke atau tidak dengan melihat parameter HRV tertentu.
HRV ini sangat powerfull untuk dijadikan prognosis pada suatu intervensi apakah menuju perbaikan atau pemburukan. Selain itu, ada banyak parameter pada HRV yang dapat menunjukkan potensi resiko-resiko penyakit berat seperti stroke, atrial fibrilation (gangguan irama jantung), aritmia, dan sebagainya.
Bagi usia diatas 40 tahun, maka pengetahuan non invasif (tidak melibatkan uji darah) seperti HRV ini sangat diperlukan. Hal ini karena seiring waktu terjadinya proses degeneratif pada tubuh. Syaraf-syaraf melemah, sel-sel lain juga melemah.
Pertanyaannya, bagaimana kita tahu syaraf kita saat itu melemah?
Konsep HRV ini adalah jawabannya.
Dengan pemahaman HRV ini Anda dapat menggabungkannya dengan ilmu-ilmu tradisional lainnya. Misal, melakukan analisa apakah latihan olah napas Merpati Putih tertentu yang dilakukan selama periode tertentu bersifat “over dosis”, berpotensi menghasilkan stroke di kemudian hari, atau memang menjadi penyembuhan bagi tubuh.
Lagi, HRV ini adalah jawabannya.
(Bersambung)


