Kisah Istighfar dan Event yang Hanya 1 Orang Saja

Oleh: Mas Gunggung

Dulu, saya punya pengalaman menarik ketika membuka kelas pelatihan. Kejadian ini sudah cukup lama. Suatu hari ada kelas yang saya buka, namun pada saat itu tidak ada satupun yang mendaftar. Saya bertanya-tanya, apakah informasi pengumumannya tidak sampai? Rasa-rasanya kok sampai. Saya lihat di history pengiriman, ternyata sampai dan dibaca oleh yang menerima.

Ditunggu seminggu, dua minggu, masih belum ada yang mendaftar.

Tiba-tiba lima hari sebelum hari pelaksanaan masuklah satu chat yang dilanjutkan dengan telpon. Ketika itu terjadi, saya sedang makan di Kintan Plaza GI. Saya angkat, lalu mengobrol cukup lama dari calon peserta yang menanyakan ini dan itu.

Akhirnya beliau mendaftar.

Setelah itu, tidak ada lagi peserta yang mendaftar.

Kok ya aneh, pikir saya.

Ada apa ini?

Kelas yang biasanya cukup ramai mendadak sepi dan hanya berisi satu orang.

Awalnya ingin dibatalkan saja, karena sudah booking meeting room, dengan resiko DP hangus.

Malam harinya saya merenung. Terdiam. Ini ada apa?

Saya bawa latihan meditasi Ritme. Pakai ritme lambat, yang semakin lambat dan lambat untuk lebih jauh ‘masuk ke dalam’.

Ini ada apa?

Saya istighfar yang banyak pada saat itu.

“Hei, Anda ini mengadakan event untuk apa tujuannya? Apakah sudah berbelok dari niat awalnya yang ingin menyebarluaskan pengetahuan yang didapat dari Allah ataukah sebab lain? Mau satu orang atau seribu orang semestinya tidak ada bedanya! Niat tidak boleh berbelok!”

Dan istighfarnya makin banyak saat itu. 

Keinginan untuk membatalkan event saat itu sudah tidak muncul lagi. Malah yang ada adalah keyakinan untuk diteruskan saja eventnya meski peserta hanya 1 orang. Dan rasa yakin ini tetap muncul sebagai ‘rasa pertama yang keluar saat itu’.

Selesai latihan hati sudah yakin… Event tetap dilaksanakan meski hanya 1 orang. Siapapun orangnya!

Tiba-tiba malam itu muncul keinginan untuk membaca buku. Pas sekali ketika membaca salah satu buku hikmah. Saya masih ingat betul kisah ini dan sangat melekat kuat dalam ingatan saya. Saya coba tuliskan ulang dengan narasi yang disederhanakan.

Halaman yang keluar adalah kisah Imam Ahmad bin Hanbal, murid dari Imam Syafi’i, yang bermimpi untuk pergi ke sebuah kota di Irak dan kemalaman lalu ingin menginap di suatu masjid di kota tersebut. Tapi oleh penjaga masjidnya beliau diusir-usir gitu. Disuruh pindah ngga boleh tidur di dalam masjid tersebut. Beliaupun pindah ke teras luar masjid. Juga sama, diusir-usir oleh penjaga masjidnya hingga terdorong ke jalanan. Akhirnya dilihatlah oleh seorang tukang roti yang lokasinya di dekat masjid. Tukang roti ini merasa kasihan dan kemudian meminta beliau untuk menginap saja di rumahnya. Imam Ahmad menurut. Setelah di rumahnya, beliau memperhatikan dengan seksama tukang roti ini. Beliau merasa heran, tukang roti ini hanya bicara seperlunya saja. Selebihnya selalu diisi dengan istighfar, mohon ampun kepada Allah. Setiap kali tangannya mengaduk adonan tepung, diisi dengan istighfar. Setiap kali beraktivitas, juga terdengar lirih istighfar. Tukang roti ini hanya berhenti beristighfar ketika diajak bicara atau ketika perlu bicara.

Ditanya oleh beliau sudah berapa lama melakukan baca istighfar sebanyak ini? Dijawab oleh tukang roti bahwa sudah bertahun-tahun. Lalu ditanya lagi, apakah yang Engkau dapatkan dari membaca istighfar ini? Dijawab oleh tukang roti bahwa tak ada hajatnya yang tidak Allah izinkan untuk terkabul kecuali satu hal saja.

Beliau mengerutkan kening, “Apa itu?”

Dijawab oleh tukang roti, “Saya ingin bertemu dengan Imam Ahmad.”.

Langsung saja beliau berteriak, “Allahu Akbar! Ternyata mimpi saya untuk datang ke kota ini tanpa ada sebab hingga saya harus diusir-usir oleh penjaga masjid adalah karena Allah haruskan saya untuk menuju ke rumahmu dan bertemu denganmu! Ketahuilah, akulah orang yang Anda maksud itu!”

Tukang roti itu sangat terkejut mendengar ucapan Imam Ahmad dan segera memuji Allah bahwa ia telah dipertemukan dengan Imam Ahmad dan Allah telah mengabulkan doanya lagi.

Kisahnya selesai.

Balik kepada pengalaman saya waktu itu.

Malam itu saya merenung dan terdiam.

Hikmah yang saya tangkap dari membaca kisah tersebut pada saat itu adalah bahwa ketika Allah sudah berkehendak, maka akan disiapkan jalan untuk orang itu agar ia dapat menuju satu tujuan tanpa ada dihalangi oleh siapapun atau apapun.

Jangan-jangan, ini adalah takdir peserta yang hanya satu-satunya itu untuk dapat bertemu dengan saya. Sehingga Allah tidak gerakkan hati sekian banyak orang yang saya kirimi penawaran untuk ikut. Begitu orang itu mendaftar, mungkin saja semua qolbu tidak Allah gerakkan untuk mengikuti event saya tersebut.

Jadi, takdirnya memang hanya untuk orang itu saja.

Bukan yang lain.

Akhirnya hari pelaksanaan tiba.

Seperti biasa, semua alat ukur saya bawa beserta dengan fotokopi makalah. Kami akhirnya bertemu. Tepat jam 9 pagi, kelas dimulai.

Peserta ini bingung. Kok dia sendirian di ruangan besar itu?

Saya melihat kebingungannya dan menjawab, “Kelas ini, hari ini, hanya untuk bapak saja. Karena tidak ada peserta lain selain bapak. Dan saya tidak tergerak hati untuk membatalkan. Jadi, ini adalah takdir kita. Alih-alih menjadi pembicara, rasanya lebih pas kalau kelas ini menjadi kelas private bapak.”

Beliau terkejut namun merasa sangat senang.

Bagi seorang profesional, entah itu 1 orang atau 1000 orang tentu harus dilayani dengan baik.

Singkat cerita, beliau merasa puas. Dan setelah makan siang minta izin apakah keluarganya boleh ikut juga. Tidak apa-apa sedikit terlambat. Beliau merasa pengetahuan yang didapatkannya ini sangat bermanfaat dan ingin dibagi kepada keluarganya.

Saya bilang, silahkan saja.

Akhirnya beliau menelpon keluarganya dan satu jam kemudian datanglah 3 orang keluarganya ikut kelas tersebut dan berlatih.

Alhamdulillah semuanya merasa puas. Selesai event, tiba-tiba masuk bukti transfer yang jumlahnya cukup besar. Bahkan yang semestinya event tersebut rugi, malah menjadi ‘berkecukupan’ berkali-kali lipat.

Hingga saat ini, beliau dan keluarganya rutin latihan dan saya menjadi instruktur personal bagi seluruh keluarga besarnya. Sampai hari ini. 

Itulah sekelumit pengalaman yang semoga bermanfaat.

Jadi, buat saya, apakah peserta yang mendaftar itu 1 orang atau 1000 orang akan tetap mendapat materi yang terbaik sesuai dengan kelasnya. Tidak ada merasa rugi atau melemah ketika jumlah yang hadir sedikit, dan tidak ada merasa jumawa jika yang hadir itu banyak.

Sebab percayalah, yang menggerakkan hati manusia itu hanya Allah saja.

Jika Allah tidak izinkan hati Anda bergerak, maka tidak mungkin ada gerakan untuk ikut ini dan itu. Akan ada saja kendalanya. Misalnya pada waktu, tenaga, atau biaya. Namun jika Allah sudah izinkan Anda untuk mendapatkan pelajaran tersebut, maka ia akan tutupi hati manusia sedunia ini hanya untuk membuka jalan Anda saja dan Anda akan dicukupkan pada banyak hal (waktu, tenaga, dan biaya).

Jalan Anda akan diluaskan. Seakan dunia ini menjadi sedemikian lapang dan disiapkan hanya untuk Anda saja.

Tetap semangat dalam mencari.

“Sopo nemen, tinemu!”

Salam hangat,
MG

About Mas Gunggung

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by Mas Gunggung