Jangan Sombong Merasa Menyembuhkan!

JANGAN SOMBONG MERASA MENYEMBUHKAN

Tulisan berikut dari dr. Tonang ini semoga dapat menambah wawasan dan inspirasi.


Jangan sombong merasa menyembuhkan…

Nasihat ini saya dapatkan dari seorang Senior Dokter. Beliau banyak bergelut dalam bidang uji klinis.

Kalau kita memberikan pelayanan (khususnya yang menggunakan obat atau terapi tertentu), kemudian pasien sembuh, maka jangan tergesa-gesa “gedhe rasa” bahwa obat yang kita berikan itu yang telah menyembuhkannya. Setidaknya ada 4 faktor yang berperan pada terjadinya “kesembuhan” (kita sebut Outcome) itu.

  1. Efek dari obat (Efek Terapi atau ET): ini memang yang diharapkan, tapi harus dibuktikan secara benar cara pembuktiannya.
  2. Perjalanan alamiah penyakit atau derajat suatu penyakit (disebut Natural Course atau NC), khususnya yang bersifat self-limiting disease.

Seperti sudah beberapa kali dibahas di beranda ini, beberapa penyakit itu bersifat memiliki masa untuk sembuh, dimana yang menjadi masalah adalah masa kritis sebelum tiba waktunya sembuh dan gejala sisa bila penanganan selama sakit tersebut tidak tuntas.

  1. Faktor dari luar : istirahat, kombinasi dengan obat atau terapi lain di luar yang kita berikan, usaha swa terapi seperti pijat, kerokan, dan sejeninys. Kita sebut saja Faktor Eksternal (FE)
  2. Kriteria atau indikator kesembuhan dan cara pengukurannya. Sebut saja Error Pengukuran (EP)

Misalnya itu perasaan pasien saja, atau benar-benar secara obyektif terjadi perbaikan. Misalnya ” merasa lebih segar” tapi apakah benar kalau di periksa lab sudah ada perbaikan, atau hanya perasaan pasien?

Kemudian, kalau pun sudah menggunakan kriteria dan indikator obyektif (pemeriksaan fisik, lab, radiologi, rekam jantung, uji ketahanan fisik dll,) apakah cara pengukuran dan perbandingannya benar?

Lantas bagaimana cara membuktikan efek tersebut benar-benar karena obat atau terapi yang kita berikan?

Maka harus ada uji klinis untuk benar-benar menyatakan bahwa suatu obat itu berefek signifikan. Caranya tentu semaksimal mungkin menghilangkan faktor NC, FE dan EP. Harapannya tinggal faktor ET saja. Jalannya melalui koridor Metode Uji Klinis yang baik. Tidak mungkin 100% menghilangkan semua faktor tersebut, tapi harus maksimal diusahakan.

Cara “ringkasnya” lakukan perbandingan dua kelompok. Derajat penyakitnya (NC), faktor eksternal (FE) dan kriteria atau indikator kesembuhanya (EP) sama. Kepada kedua kelompok, ada yang diberi obat yang kita uji. Ada yang menggunakan obat yang selama ini digunakan. Tapi wujud luarnya sama, tidak dapat ditandai atau dikenali bedanya.

Cara pembandingan ini harus diuraikan terbuka, dapat diuji oleh orang lain, untuk diverifikasi.

Agar kedua kelompok itu sama-sama derajat penyakitnya (NC), maka pasien dibagi secara random (acak, tidak pilih-pilih).

Agar kedua kelompok itu sama-sama faktor eksternalnya, maka kepada kedua kelompok diperlakukan secara sama TAPI secara “buta”. Artinya pasien dan pemberi obat, sama-sama tidak tahu apakah mendapat obat baru atau obat yang sudah biasa selama ini.

Begitu juga, agar sama cara pengukuran tingkat “kesembuhannya”, dilakukan pengukuran secara “buta”. Dengan cara ini, maka subyektivitas pasien maupun yang menganalisis datanya, tidak mempengaruhi hasil.

Yang berhak tahu kelompok mana mendapat obat apa, itu hanya beberapa orang saja, khususnya yang disebut Dewan Keselamatan dan Monitoring (Data Safety and Monitoring Board) – DSMB). Sejak awal penyusunan protokol, sampai pengawasan berkala, dan simpulan akhir dijalankan oleh DSMB ini.

Bagaimana simpulan diputuskan?

Dibandingkan: berapa persen dari kelompok yang mendapat obat baru itu menunjukkan perbaikan, dibandingkan berapa persen dari kelompok dengan obat yang biasa digunakan, juga menunjukkan perbaikan.

Baru kemudian terhitung efektivitas obat tersebut. Kemungkinan hasilnya 2 : terbukti lebih efektif. terbukti tidak ada efek yang signifikan dibandingkan obat yang sudah biasa digunakan.

Lho apakah tidak mungkin ternyata kurang efektif.? Mungkin sekali. Hanya khusus untuk kemungkinan ke 3 ini, akan diketahui lebih awal oleh DSMB saat pengukuran berkala. Bila sudah ada indikasi bahwa obat baru itu ternyata kurang efektif dibandingkan obat yang sudah biasa digunakan, maka uji klinik akan dihentikan.

Dengan hasil akhir itulah kemudian muncul rekomendasi, apakah obat baru tersebut layak digunakan, atau sebaiknya tidak digunakan karena tidak signifikan efeknya (walau juga tidak merugikan, karena kalau merugikan, sudah dihentikan uji kliniknya lebih awal).

Nah, itu dari sisi dokter. Maka Dokter tidak boleh sombong merasa bahwa obat yang diberikan itu PASTI yang menyembuhkan pasien. Justru karena itu pula, dalam dunia kedokteran, tidak ada klaim 100% pasti sembuh.

Bagaimana bagi masyarakat?

Sebenarnya sama juga. Kalau kebetulan mendapatkan suatu “terapi” kemudian merasa sembuh, maka ada 4 faktor itu juga setidaknya yang mempengaruhi. Kalau kebetulan terapi yang diperoleh itu “terapi baru” atau “yang tidak biasa” maka sama juga. jangaan tergesa-gesa menyimpulkan.

Tapi apa nggak boleh disyukuri wong nyatanya merasa sembuh kok?

Boleh saja, bahkan harus bersyukur. Hanya hati-hati ketika menyimpulkan dan menyampaikan ke orang lain, karena kondisi tiap-tiap orang berbeda.

Ada satu lagi faktor yang sebenarnya faktor utama, tapi kita tidak akan pernah dapat mengujinya: Rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Faktor ini yang selalu ada, tapi kita tidak pernah bisa mengukur dan mengendalikannya.

Selalu ada kemungkinan bahwa kesembuhan yang diperoleh itu adalah rahasia Allah, walau sekilas tidak sesuai dengan alur logika dan pengetahuan kita saat ini. Namanya rahasia, maka tidak bisa begitu saja kita “terapkan” kepada orang lain. Yang boleh kita tular-terapkan hanyalah untuk selalu yakin bahwa jangan pernah berputus asa, karena kehendak Allah selalu yang terbaik untuk kita.

Demikian nggih. Mangga. Nuwun.

@ TDA 10/4/2022


Tambahan dari saya:

Itulah kenapa pada Metode Napas Ritme sangat rewel pada hal-hal yang terukur dan terus berusaha untuk masuk ke ranah penelitian. Merangsang peserta untuk terus belajar dan belajar secara logis, terukur, ada rujukan, dan dapat memposisikan olah napas secara wajar.

Ada buku-buku pegangan. Dipelajari teorinya, hipotesanya, cara mengukurnya, alat-alatnya, dan sebagainya. Berikutnya, masuk pada ranah penelitian.

Ribet?

Bergantung cara menjalaninya saja.

Tidak ada klaim bombastis ini dan itu. Lihat saja channel YouTube saya, isinya dominan pembelajaran. Dasar teorinya terbuka. Alat ukurnya jelas. Peserta juga disarankan punya agar dapat belajar membuktikan pada dirinya sendiri. Rujukannya ada. Hipotesanya jelas.

Meskipun saya sudah mengumpulkan ribuan testimoni selama lebih dari sepuluh tahun terakhir. Tapi testimoni tetaplah testimoni. Untuk tahap awal tidak apa-apa. Namun selanjutnya mesti dinaikkan statusnya pada uji penelitian.

Jika kita cukup kompeten disitu, pada bidang itu, kemudian cukup konsisten, maka biasanya frekwensi akan bersambut dan resonansi akan lahir disana.

Salam hangat,
MG

About Mas Gunggung

He is martial artist in Pencak Silat Merpati Putih. He develops health and wealth program in pencak silat based on breathing exercises which called "Napas Ritme". Individuals who are not scientists or engineers, but believe in the importance of science.

View all posts by Mas Gunggung